Langsung ke konten utama

Rival ku

            Aku adalah salah seorang Atlit Tae kwon do di kota ku. Aku selalu mewakili kota ku di kelas berat badan 55kg. Aku selalu bisa membawa pulang medali emas tatkala tantangan kejuaraan datang kepadaku. Aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali aku dikalahkan seseorang.
            Pagi itu kami berangkat satu rombongan dengan bus yang sudah disiapkan untuk pergi melakukan perjalanan ke semarang. Seperti biasa aku mengobrol dengan beberapa kawanku yang juga akan mengikuti kejuaraan di semarang. Bercanda , membully, tidur, dan banyak hal yang kami lakukan. Sesampainya di kota semarang aku dan rombonganku datang ke sebuah penginapan yang bisa dibilang agak tua namun jaraknya dari area pertandingan bisa dibilang cukup dekat.
            Seusai melepas penat selama beberapa jam, kami pun menjalankan latihan sore, serta penimbangan sebelum bertanding besok pagi. Aku pun menyempatkan diri untuk melihat bagan pertandingan yang dibawa oleh pelatihku. Aku melihat bagan di under 55kg (berat badan 55kg) dan menemukan namaku disana. Tertulis aku harus mengalah kan 5 lawan untuk bisa meraih juara pertama. Aku sebenarnya bosan dengan olahraga ini, bukannya sombong hanya saja aku merasa tak ada lawan yang bisa mengalahkanku di under55kg  ini. Kalau pun aku ingin meningkatkan berat badan ku aku terlalu sulit untuk melakukannya. Ya memang anugerah tuhan lah yang membuatku kurus hingga saat ini, dengan tinggi badanku yang mencapai 187cm aku pun dengan mudah mengalahkan lawan yang berbobot sama namun dengan tinggi yang berbeda.
            Keesokan harinya kami pun berangkat ke arena gor jati diri. Kejuaraan pertama dimulai dari kategori Poomsae atau biasa disebut kategori jurus. Teman teman ku di bidang poomsae sudah bersiap untuk mengalahkan lawan lawannya. Namun sayang, Poomsae Tae kwon do semarang adalah Poomsae terbaik nomor 2 se indonesia, sehingga sangat sulit mengalahkan mereka. Pada akhirnya, di bidang poomsae hanya bisa membawa pulang 3 perak serta 1 perunggu dari 4 kategori yang dimainkan.
            Tibalah saatku harus bertarung, pertarungan sudah mencapai partai 35, aku yang mendapat giliran di partai 40 harus segera bersiap. Aku pun mengenakan semua perlengkapan tae kwon do ku. Aku pun mulai memasuki lapangan.
            Setelah wasit memulai aba aba, aku pun mulai melancarkan seranganku. Seperti biasa, lawan lawanku tak pernah melakukan perlawanan yang mengancamku. Aku biasa bertarung hingga final, namun tetap saja tak ada yang sulit untuk ku lawan.
            Aku pun menghabisi semua lawanku hingga melaju ke semi final. Fian adalah lawan yang akan aku hadapi di semifinal ini adalah mantan pemain unggulan di under 52kg, tapi tetap saja pengalamannya di under55kg, belum seberapa. Wasit pun mulai mengucapkan aba abanya.
            Dia melancarkan serangannya terlebih dahulu. Selama ini, aku hanya tau sedikit mengenai serangan serangan Fian. Dia terkenal akan serangan kombinasi deolko Dwi Huryeo. Yaitu menggabungkan 2 tendangan berputar sekaligus, aku sudah terbiasa mendapat serangan seperti itu dari senior senior ku. Aku pun menghindari serangannya dan membalas dengan tendangan deolyo chagi yang sederhana namun dengan power yang besar.
            Aku mengalahkan Fian dengan Skor 15-8. Aku pun berkemas dan meninggalkan lapangan sembari menunggu partai final. Ku lihat di lapangan B adalah pertarungan yang akan menentukan lawanku di Final nanti. Esa adalah orang yang paling sering ku hadapi di final di setiap kejuaraan. Dia merupakan pemain unggulan kedua setelah aku pada kejuaraan ini. Dia sangat hebat dalam masalah kelincahan dan kecepatan, kecerdasannya dalam mengontrol tendangan juga patut diakui jempol. Tapi tetap saja semua hal itu tak dapat mengalahkan ku.
            Namun, betapa terkejutnya diriku melihat Esa yang merupakan lawan yang kuanggap bisa mengimbangiku dapat dikalahkan dengan skor 15-2, skor yang bahkan belum pernah terjadi padaku. Aku tak pernah mengalahkan Esa dengan skor kurang dari 15-10. Di partai final pun pada akhirnya bukan Esa yang akan kuhadapi namun seorang anak yang memiliki tinggi yang sama denganku dan pastinya dengan berat baan yang sama pula. Entah bagaimana bisa tapi aku yakin akhirnya aku menemukan lawan yang bisa membuatku harus berusaha sekuat tenaga.
            “ya, perkenalkan aku adalah Teo. Kau pasti sudah lupa denganku kan Irul...?” tanya nya
            “Aku hanya mengenal orang orang yang aku anggap kuat saja, dan mungkin saja setelah ini aku akan mengenalmu... haha” ujarku
            “kita lihat saja nanti, siapakah yang akhirnya berada di podium utama” ucapnya
            Wasit pun mulai mengucapkan aba abanya. Tiba tiba saja orang itu langsung berada di depan ku dan melancarkan serangannya. Ia menyerangku dengan tiga tendangan bertubi tubi. Aku melihat papan skor dengan poin 3-0, aku sedikit terkejut. Akhirnya kulancarkan semua serangan yang bisa kulakukan. Aku menggonakan tendangan berputar dan mengenai kepalanya. Skor berubah menjadi 3-4. Semua penonton bersorak sembari menyemangati aku dan lawanku.
            “yaa, lumayan juga kau Teo..” ucapku
            “ini masih belum apa apa loh...” katanya
            Kami pun menendang secara bersamaan dan menimbulkan Crush dengan suara yang keras. Kaki ku terasa seperti hancur, aku heran bagaimana orang ini bisa bertahan dengan crush sekuat tadi,  dia bahkan tak terihat kesakitan. Rounde 1 pun berakhir dengan skor 9-10, aku unggul sesaat. Pertarungan pun dilanjutkan, aku terus mencoba menyerangnya namun selalu saja dia juga berhasil mencuri poin dariku. Di rounde ke 2 pertarungan berakhir dengan skor 19-19 kami imbang. Di babak final poin maksimanya adalah 20 poin, tapi karena di babak kedua skor menunjukan angka sama maka akan dilanjutkan dengan babak sudden death.
            Siapa pun yang berhasil mencuri angka pertama di pertandingan ini maka dialah pemenangnya. Aku pun bermain dengan lebih tenang. Selama beberapa detik  tak ada yang menyerang. Hingga akhirnya aku menyerang duluan, dia berhasil menghindari seranganku dan melakukan counter aku pun berhasil menghindari counternya. Skor 0-0 masih terlihat di papan skor. Aku baru pertama ini merasakan babak sudden death serta ketegangan yang luar biasa. Apakah aku bisa menang atau kalah, aku pun tak tahu. Teo melancarkan serangan kombinasi yang biasa dilakukan oleh Esa, lalu melanjutkan serangan kombinasinya dengan serangan milik Fian.
            Aku pun berhasil menghindari seranganya. Sekarang aku tau bagaimana bisa dia sekuat itu. Dia sangat pandai mempelajari serangan serta kecepatan lawannya.
“Teo.. kamu memang kuat.. tapi apa gunanya jika semua tekhnik mu itu hanya merupakan serangan tiruan? Aku bisa menghadapinya”
            Aku melancarkan tendangan berputar dan mengenai bagian dadanya. Skor pun menunjukan 0-1 untuk kemenanganku. Semua bersorak dan Teo pun menyalami tanganku. Aku pun membalasnya dengan senyuman ramah. Aku pun akhirnya bisa memenangkan pertandingan ini.

            

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Petualangan di Shiltz (Chapter 08) END

Chapter 08 : Pertarungan terakhir Tubuhku kembali menjadi wujud prophet ku. Aku meneguk potion pengembali energi dan penghilang luka. Sihir penyembuhan prophetku juga tidak lupa aku gunakan karena setelah ini aku akan menghadapi sang raja iblis lucifer. “Semoga saja ini menjadi pertempuranku yang terakhir” kataku , aku mulai melepas semua jubah prophetku dan hanya Crusade mace yang aku bawa untuk menghabisi lucifer. Aku mulai memasuki area yang terlihat penuh dengan jebakan. Satu langkah saja duri duri di samping ku akan langsung menghunusku. Entah apa yang merasuki diriku namun aku sama sekali tidak memiliki rasa takut saat ini. Perasaan ini sangat berbeda dengan diriku yang dulu yang sangat takut untuk bertempur, mungkin karena semua rasa takut ini sudah ku ubah menjadi kekuatan untuk menghadapi lucifer. Seusai melewati rintangan itu aku pun sampai di sebuah pintu raksasa dengan lambang mata berwarna biru ditengah tengah pintu itu. Aku pun menyentuh pintu itu dan membuka segel...

Desa Langit

DESA LANGIT Karya : Ilham Maulana (Mr.I)            Namaku Saito umurku 14 tahun. Saat ini sekolah ku sedang musim liburan jadi aku memutuskan untuk berlibur bersama ayah dan bundaku ke desa Langit. Memang nama desa yang aneh tapi desa itu adalah desa dimana paman dan bibiku tinggal. Menurut cerita desa ini dinamakan desa langit karena di ujung bukit di desa ini ada suatu kekuatan yang katanya bisa menarik kita dengan kasar menuju langit dan tak bisa kembali lagi. Karena cerita itu aku jadi tetap bermain di halaman rumah bibiku saja supaya aku aman. Suatu ketika aku bertemu seorang anak perempuan yang sebaya denganku. “Hei , aku belum pernah melihatmu?” sapa gadis itu “um… ng… memang aku kesini untuk berlibur….” Jawabku gugup “oh begitu , perkenalkan namaku Lena. Kamu harus hati hati ya di desa ini , karena ini sudah memasuki bulan july “ kata lena “memang kenapa kalau bulan july ?” tanyaku “bulan July ada...

Kos Berhantu

Cerpen Horor - Kos Berhantu Karya Karina Puspa Sari Aku menempati kamar kosku yang baru di kawasan sekitar kota dekat kampusku. Biaya perbulanya agak sedikit mahal ya tentu saja karena dekat dengan Kampus. Ruangannya nyaman untuk di tempati untuk mahasiswa sepertiku. Ruangan itu di cat hijau lembut. Kamar itu berukuran 3x3 meter persegi. Ada satu tempat tidur beserta bantal dan gulingnya, satu lemari plastik, satu set meja belajar, dan juga tentu saja ada kamar mandi. Aku segera menata baju-bajuku, perlengkapanku, memasang seprai untuk tempat tidur, meletakan buku-bukuku di rak meja belajar. Setelah selesai aku istirahat sebentar sambil membuka laptopku dan menyalakan musik kesukaanku. Tidak lama kemudian aku tertidur. Sesaat setelah aku tertidur aku melihat ada orang yang berjalan masuk ke kamarku menuju kamar mandi. Aku tidak melihat wajahnya. Dia memakai baju berwarna serba merah. Kulitnya putih sekali. Saat aku terjaga kemudian aku bangun, aku kem...