DESA LANGIT
Karya : Ilham Maulana (Mr.I)

Namaku Saito umurku 14 tahun. Saat ini sekolah ku sedang musim liburan jadi aku
memutuskan untuk berlibur bersama ayah dan bundaku ke desa Langit. Memang nama
desa yang aneh tapi desa itu adalah desa dimana paman dan bibiku tinggal.
Menurut cerita desa ini dinamakan desa langit karena di ujung bukit di desa ini
ada suatu kekuatan yang katanya bisa menarik kita dengan kasar menuju langit
dan tak bisa kembali lagi. Karena cerita itu aku jadi tetap bermain di halaman
rumah bibiku saja supaya aku aman. Suatu ketika aku bertemu seorang anak
perempuan yang sebaya denganku.
“Hei
, aku belum pernah melihatmu?” sapa gadis itu
“um…
ng… memang aku kesini untuk berlibur….” Jawabku gugup
“oh
begitu , perkenalkan namaku Lena. Kamu harus hati hati ya di desa ini , karena ini
sudah memasuki bulan july “ kata lena
“memang
kenapa kalau bulan july ?” tanyaku
“bulan
July adalah dimana kekuatan langit mencapai batas maksimal sehingga jika ada
benda apapun yang ada di ujung bukit akan terseret ke atas” jelas Lena
Mendengar
ceritanya membuatku makin ngeri jadi aku makin waspada supaya tidak dekat dekat
dengan bukit itu. Suatu hari aku melihat Lena dengan temannya pergi menuju
ujung bukit. Aku tidak tau apa yang sedang dipikirkan Lena sehingga dia pergi
ke ujung bukit, aku mencoba mengejar dia tapi aku takut jika aku terseret ke
atas langit. Tapi karena lena juga temanku di desa ini aku memberanikan diri
untuk mengejarnya.
“Lena
! apa yang kamu lakuin sih!” Bentak ku
“huh….
Kaamu ngapain saito kesini, nanti kamu bisa keseret lho… !” jawab lena dengan
wajah lesu
“kan
aku yang nanya duluan… jawab!” bentakku lagi
“Heh…
jangan bentak bentak Lena “ kata temen lena yang namanya Dira
“bisa
kamu jelasin gak len , kenapa kamu disini?” tanyaku dengan halus
Lalu
Lena mulai bercerita kalau dia sedih karena baru saja mendengar kabar bahwa
kedua orangtuanya mengalami kecelakaan kerja dan meninggal. Lalu lena menuju
puncak bukit untuk menyerahkan dirinya sebagai Tumbal. Lena menyerahkan diri
supaya dalam tahun ini cukup orangtua Lena yang tewas. Aku lalu memarahi Dira
“Dira!
Kamu gimana sih…. Temen kamu itu jadi tumbal! Kenapa kamu relain!” bentakku
“aku
bukannya ngrelain… tapi…. Kalo Lena gak mengorbankan diri maka bencana akan
terus datang dan bisa saja aku ataupun orangtuaku yang jadi korban!” jawab Dira
Aku
lalu berpikir cara supaya Lena tidak usah menjadi tumbal dan supaya desa tetap
aman. Lalu ide terlintas dipikiranku. Aku memberitahu kalau kita bisa mengganti
tumbalnya.
“Gimana
kalau kita ganti tumbalnya dengan boneka kayu.. ?” bujukku
“Lalu
emang bisa berpengaruh kalau boneka kayu?” Tanya Dira
“Bukan
Cuma boneka kayu , tapi nanti boneka kayu yang dihias seperti putri raja dan
diberi beberapa helai rambut di kepalanya… mungkin rambut manusia bisa mewakili
jiwa manusia tersebut..” Jelasku
“mungkin
itu Ide bagus “ tanggap Lena
Akhirnya
kami membuat boneka kayu secantik mungkin , dan dalam waktu 3 minggu boneka itu
pun terselesaikan. Saat membuat boneka sudah 2 orang tewas di desa langit
akibat kecelakaan kerja. Tapi pada akhirnya kami bertiga mengumpulkan semua
warga untuk berkumpul menjalankan Upacara pengorbanan boneka. Langit menjadi
Gelap dengan Lubang hitam seperti mesin penghisap. Kamipun mulai melemparkan
boneka kayu ke tengah lingkaran itu. Bonekapun terhisap keatas. Lalu langit berubah
menjadi terang benderang. Semua warga bersorak karena berfikir kalau semua
kutukan tahun ini sudah berakhir.
“Kita
berhasil Lena , Dira… “ kataku
“iya
kamu benar Saito… terimakasih , aku jadi tidak perlu mengorbankan diriku “ kata
Lena
Tapi
tiba tiba Angin diujung bukit membuat Lena terpental ke tengah puncak bukit ,
pada Akhirnya Lena tetap menjadi tumbal untuk desa Langit.
“Lena!!
Jangan pergi!!” Teriakku
“Lepaskan!!
Tolong aku!! To…Lo..ng…. “ Teriak Lena yang makin menjauh dari bukit.
Setelah
semua sorakan tadi warga desa pun menjadi sunyi kembali. Mereka akhirnya
menobatkan Lena sebagai pahlawan desa sehingga selama satu tahun di desa itu
tidak terjadi musibah lagi.
THE
END

Komentar
Posting Komentar