Langsung ke konten utama

Petualangan Di Shiltz (Chapter 01)

Chapter 01 : Malam Kehancuran Gypsi

            Malam itu adalah malam yang dingin. Suasana yang mencekam, Bulan Purnama yang menyongsong seakan ingin menelan bumi ini karena Besarnya. Kami Berkumpul dan Membuat sebuah perkemahan. Kami para Kaum Gypsi memanglah selalu berpindah tempat dari satu ke tempat lain. Memang menakutkan awalnya, namun jika berada dalam kelompok yang menggunakan jubah putih dan topi seperti penyihir ini membuatku terasa aman dan nyaman. Malam itu kami berada di area Hutan kematian yang letaknya di sebelah barat Ibu kota Shiltz yaitu kota Elim, Dimana Tujuan kami adalah menuju tempat itu. Kota yang penuh dengan petualang yang kuat dan kota yang sangat damai. Namun karena Malam telah tiba kami memutuskan untuk membuat perkemahan supaya lebih aman dan tidak diserang oleh para Bale yang kelaparan. Ya , sejak 700 tahun yang lalu manusia , Dewa dan para Monster (Bale) memulai perang besar yang belum selesai hingga saat ini. Para Bale di izinkan tinggal di area area yang jauh dari perkotaan , dan tidak bisa menyerang kota karena perlindungan dari para Elim (Dewa dan Dewi  di Shiltz).
“Semuanya Mari kita makan malam bersama” Seru Ayahku yang merupakan Kepala suku kaum Gypsi.
“Yoaaa,, ayooo yeeey...” Sorak para Gypsi yang tengah menahan lapar sejak tadi.
“Ibu , Apa kita akan benar benar aman di perkemahan ini?” tanyaku kepada ibuku yang sedang mengupas buah untuk kami santap
“Tenang saja Clen , Selama kita bersama kita akan aman, lagipula kaum gypsi memang sering berpindah seperti ini kan?” tanya kembali ibuku padaku
“Tapi ini pertama kalinya kita berkemah dimana para bale level atas tinggal , yaitu Hutan Kematian” Jawabku
“Tenang Saja Clen , nanti kalau ada monster aku akan menghajarnya hahaha...” Ledek sahabatku yang bernama Ruzel , kami sudah bersahabat sejak kami dilahirkan. Dia adalah seorang cleric tipe penyembuh sedangkan aku adalah cleric tipe petarung. Namun entah kenapa aku belum pernah melawan bale yang jauh lebih kuat dariku. Karena aku tidak memiliki keberanian seperti Ruzel mungkin.
“GAWAT!!! SEMUANYA BERLINDUNG!!” Teriak salah satu Gypsi yang bertugas memantau situasi.
“Ada apa ini?!? Jangan panik dulu , semuanya tetap tenang!” Seru Ayahku yang mencoba menenangkan kami semua.
“ada... ada Wolfman dengan jumlah yang tidak sedikit! , jumlah mereka lebih banyak dari kita!” Jelas Gypsi Pemantau.
“Semua Cleric Petarung berkumpul para penyembuh bersiap memberi penyembuhan kepada yang terluka!” Teriak Ayahku memberi perintah kepada yang lain.
Aku benar benar takut  karena bale dengan level tinggi akan datang dan mengacau disini. Aku mencoba untuk bergabung dengan para cleric petarung (Prophet) tetapi aku mengurungkan niatku dan lebih memilih bersembunyi dibalik jubah ibuku yang merupakan seoarng Cleric Penyembuh (Priest). Kelompok kami terkenal dengan jumlah Prophet terbanyak diantara kaum gypsi lain. Itulah mengapa kami bisa berjuang hingga hampir sampai di kota Elim.
“Repentice!!!” Teriak ayahku sambil Mengayunkan Crusade Mace nya dan mengeluarkan sihir yang melukai salah satu bale dan membuat beberapa bale tidak bisa bergerak.
“Semua Serang!!!!” Teriak Ayahku
            Peperangan melawan para wolfman pun tak bisa terelakan, kami mampu mengimbangi mereka yang berjumlah jauh lebih banyak dari kami. Namun Jumlah mereka yang tidak kunjung berkurang membuat tenaga kami terkuras.
“Clen, Larilah menuju Timur menuju kota Elim. Kami akan menyusul setelah peperangan ini usai.” Kata ibuku sambil terus mengayunkan Matry mace nya.
“Tapi ibu... aku takut.. aku takut bila kita dikalahkan” kata ku dengan nada ketakutan. Seluruh badanku gemetar dan terasa dingin.
“Cepat Lari sejauh mungkin , carilah bantuan supaya kita tidak dikalahkan” kata ibuku sambil menitihkan air matanya.
“Clen.. cepat Pergi” suara ibu terus terdengar hingga tiba tiba seekor Wolfman Beyond (Pimpinan) menancapkan cakarnya ke punggung ibuku. Suara ibuku mulai terdengar semakin lirih, aku hanya bisa menatap ibuku dari kejauhan. Dan terus berlari tanpa mempedulikan apakah ada bale yang mengejarku atau tidak.
“IBU!!!” Teriakku kepada ibuku untuk terakhir kalinya. Teriakanku membuat beberapa Wolfman mengejarku dan aku mulai mengayunkan Redemption Mace ku dan mengeluarkan mantra pengusir kegelapan.
“Cleansing!!” Cahaya Putih muncul dari redemption mace ku. Sebenarnya sihir Cleansing ini hanya untuk melakukan pemurnian terhadap para pejuang yang terkena efek racun maupun sihir kegelapan. Tapi aku tidak menyangka jika itu bisa digunakan untuk menyerang para wolfman ini karena Elemen para wolfman itu kegelapan.
Aku berlari cukup jauh sehingga tidak terlihat lagi perkemahan maupun para wolfman. Namun tiba tiba seseorang mendekap mulutku dengan rapat. Aku sangat bingung dan terkejut, ingin ku lepaskan cengkramannya dengan seluruh tenaga namun aku sudah kehabisan tenaga karena berlari terus menerus.
“Ssssstttt!! Diam , aku sedang memanggil bantuan untukmu” Seorang yang sepertinya adalah seorang Trickster (Clown penghibur) mencoba menenangkanku.
“bagaimana keadaannya Shun?” Tanya salah seorang prajurit yang dibawa Trickster itu. Dia melepaskan tangannya dari mulutku. Dan aku mulai memarahinnya.
“Hei! Tidak sopan bagi seorang wanita sepertimu menutup mulut pria sepertiku! Apalagi kau hanya seorang penghibur kan!” Teriakku kesal
“Heih heih... kalau kamu terus berteriak nanti para wolfman akan datang” katanya
“Pokoknya segera bawa pasukanmu menuju perkemahan ku.. cepat!” kataku menyuruh trickster itu untuk bergerak.
DUARR!!! Terdengar suara ledakan yang sangat kencang diikuti cahaya yang sangat menyilaukan. Kami segera bergegas menuju perkemahan kami tadi. Tapi Sesampainya di Perkemahan itu aku terkejut karena semua sudah porak poranda. Tidak ada satu orang pun maupun satu bale yang masih tersisa. Yang tersisa hanyalah terpal tenda dan bercak bercak darah di sekitar perkemahan. Aku terduduk lesu melihat semua itu, tapi yang membuatku mampu berdiri dan langsung berlari adalah ketika melihat ayahku yang masih terbaring di balik pohon dengan darah yang memenuhi mulut dan perutnya. Aku memastikan jika dia masih bernafas.
“Ayah... Ayah... Jawab!! Apa yang terjadi!!” kataku sedih dan murung
“Oh... Clen.. kau selamat ya.. syukurlah...” kata ayahku dengan suara lirih dan mulai tidak jelas.
“Siapa saja!! Panggilkan Priest kemari! Ayah bertahanlah... aku akan mencoba menyembuhkanmu!” Aku mengayunkan Redemption Mace ku. “Mass Cure!! Cure!! Heal!! “ Aku terus mengucapkan mantra mantra penyembuhan , namun luka ayahku tidak kunjung pulih. Tentu saja karena aku adalah seorang Prophet bukan Priest yang ahli dalam bidang penyembuhan. Meskipun Prophet masih bisa menggunakan sihir supporting maupun Heal magic , namun efeknya tidak sebesar para priest.
“Ayah!! Bertahanlah!” Teriakku
“Clen... Semua terjadi begitu cepat, Awalnya kami seimbang... namun tiba tiba sang Raja Iblis Lucifer Muncul dihadapan kami semua , dia menyapu semua bale dan manusia yang ada disini dengan sekejap.” Jelas ayahku yang membuatku tidak percaya.
“Lu...ci..fer... dia sudah muncul?!?” tanya si trickster yang tadi membungkam mulutku.
“Hanya ayah yang mampu menyelamatkan diri. Dan yang lainnya disapu oleh kekuatan besar Lucifer “ Jelas ayahku
“jadi semua...! Tidak mungkin!?!” kataku seolah tidak percaya dengan apa yang dikatakan ayahku.
“Clen... hanya satu pesanku... gunakan Crusade Mace ku ini dan kalahkan Para Bale bahkan hingga sang raja iblis Lucifer.” Kata ayahku yang semakin lama denyut nadinya melemah.
“Ayah bertahanlah!! Cure!! Mascure!! Cleansing!!! Heal!!” Racun akibat serangan lucifer tadi sangat kuat sehingga ayahku tidak bisa bertahan.
“Selamat tinggal Clen... Berjuanglah demi aku , ibumu dan sahabatmu Ruzle...” Kata kata ayahku tadi menjadi kata kata terakhirnya kepadaku.

“Ayah... tidak mungkin.... ayah!!!” 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Petualangan di Shiltz (Chapter 08) END

Chapter 08 : Pertarungan terakhir Tubuhku kembali menjadi wujud prophet ku. Aku meneguk potion pengembali energi dan penghilang luka. Sihir penyembuhan prophetku juga tidak lupa aku gunakan karena setelah ini aku akan menghadapi sang raja iblis lucifer. “Semoga saja ini menjadi pertempuranku yang terakhir” kataku , aku mulai melepas semua jubah prophetku dan hanya Crusade mace yang aku bawa untuk menghabisi lucifer. Aku mulai memasuki area yang terlihat penuh dengan jebakan. Satu langkah saja duri duri di samping ku akan langsung menghunusku. Entah apa yang merasuki diriku namun aku sama sekali tidak memiliki rasa takut saat ini. Perasaan ini sangat berbeda dengan diriku yang dulu yang sangat takut untuk bertempur, mungkin karena semua rasa takut ini sudah ku ubah menjadi kekuatan untuk menghadapi lucifer. Seusai melewati rintangan itu aku pun sampai di sebuah pintu raksasa dengan lambang mata berwarna biru ditengah tengah pintu itu. Aku pun menyentuh pintu itu dan membuka segel...

Desa Langit

DESA LANGIT Karya : Ilham Maulana (Mr.I)            Namaku Saito umurku 14 tahun. Saat ini sekolah ku sedang musim liburan jadi aku memutuskan untuk berlibur bersama ayah dan bundaku ke desa Langit. Memang nama desa yang aneh tapi desa itu adalah desa dimana paman dan bibiku tinggal. Menurut cerita desa ini dinamakan desa langit karena di ujung bukit di desa ini ada suatu kekuatan yang katanya bisa menarik kita dengan kasar menuju langit dan tak bisa kembali lagi. Karena cerita itu aku jadi tetap bermain di halaman rumah bibiku saja supaya aku aman. Suatu ketika aku bertemu seorang anak perempuan yang sebaya denganku. “Hei , aku belum pernah melihatmu?” sapa gadis itu “um… ng… memang aku kesini untuk berlibur….” Jawabku gugup “oh begitu , perkenalkan namaku Lena. Kamu harus hati hati ya di desa ini , karena ini sudah memasuki bulan july “ kata lena “memang kenapa kalau bulan july ?” tanyaku “bulan July ada...

Kos Berhantu

Cerpen Horor - Kos Berhantu Karya Karina Puspa Sari Aku menempati kamar kosku yang baru di kawasan sekitar kota dekat kampusku. Biaya perbulanya agak sedikit mahal ya tentu saja karena dekat dengan Kampus. Ruangannya nyaman untuk di tempati untuk mahasiswa sepertiku. Ruangan itu di cat hijau lembut. Kamar itu berukuran 3x3 meter persegi. Ada satu tempat tidur beserta bantal dan gulingnya, satu lemari plastik, satu set meja belajar, dan juga tentu saja ada kamar mandi. Aku segera menata baju-bajuku, perlengkapanku, memasang seprai untuk tempat tidur, meletakan buku-bukuku di rak meja belajar. Setelah selesai aku istirahat sebentar sambil membuka laptopku dan menyalakan musik kesukaanku. Tidak lama kemudian aku tertidur. Sesaat setelah aku tertidur aku melihat ada orang yang berjalan masuk ke kamarku menuju kamar mandi. Aku tidak melihat wajahnya. Dia memakai baju berwarna serba merah. Kulitnya putih sekali. Saat aku terjaga kemudian aku bangun, aku kem...