Langsung ke konten utama

Petualangan di Shiltz (Chapter 04)

Chapter 04 : Lufa si Mata Api
            Beberapa Hari setelah Kami menjalankan misi tiba tiba saja para petualang dikumpulkan di Area Lapangan Secara mendadak. Kami tidak tau apa yang terjadi, tapi kami bertiga segera mendatangi seruan itu. Sesampainya di Lapangan kota Elim , Raja Arus dengan pakaian armor Emas serta jubah merah dan pedang platinumnya berdiri di atas air terjun Elim.
“Wahai rakyatku dan para petualang... Kekacauan kembali terjadi di negeri Shiltz ini. Kami baru saja mendapat kabar bahwa Kota Lime yang damai telah diserang oleh Para Bale” Ucapnya
“Apa... Lime diserang bale? Ahh Paling Bale lv kecil... Tapi apa mungkin Bale kecil menimbulkan kepanikan?” Ucap para petualang yang mulai bingung
“Maka Dari Itu... Para kesatria dari Kota Elim akan menolong Kota Lime dan membentuk sebuah pasukan pengusir Bale. Karena Bale yang menyerang Kota Lime adalah Bale bale yang lepas dari Istana terkutuk yaitu Ice Castle”  Lanjut raja Arus
“ICE CASTLEE???” Teriak Zeon , seolah tidak percaya dengan apa yang terjadi dengan kampungnya.
“Kita akan berangkat Lusa nanti. Barang siapa yang ingin Berkumpul silahkan segera mendaftar kepada Kesatria Leoner, kita akan berangkat besama” Kata Raja Arus
Pengumuman tadi membuat Zeon menjadi panik , dia Khawatir karena Bale Bale yang menyerang adalah Bale Tipe A. Selama ini Para Bale dibedakan Menjadi Tipe D, C, B, A dan kelas terkuat yaitu S. Penyerangan Tipe A di kota Lime merupakan hal yang hampir mustahil karena kota Lime hanya dikelilingi oleh daerah yang mempunyai monster kelas D dan C , sehingga hampir mustahil kota Lime diserang oleh Bale kelas A kecuali jika Bale tersebut dari Ice Castle , Duengon yang cukup ditakuti di jajaran Benua Shiltz ini. Zeon meminta kepada kami untuk menemaninya ke Lime dan menyelamatkan kampungnya. Paling tidak meskipun orang tuanya sudah tiada dia bisa menyelamatkan orang orang terdekatnya. Kami segera berangkat pada sore itu juga. Matahari Shiltz saat itu sangat merah dan terbenam di barat serta Bulan yang muncul dengan terang dari sisi lain membuat keadaan semakin menakutkan karena malam segera tiba.
“Ayo kita pergi... sekarang!” Bujuk Zeon
“Zeon... tenangkan dulu pikiranmu! Kau harus persiapan! Lawan kita nanti adalah Bale Kelas A! Bale setingkat Wolfman tauk!” kata ku , aku terus mencoba menenangkannya tapi sepertinya usahaku itu seperti sia sia.
“Sekarang kita belanja peralatan dulu , lalu kita akan berangkat dengan guardian Phoenix ku, sehingga bisa menghemat waktu.” Ucap Shun, seraya menarik tangan zeon menuju toko peralatan.
Setelah berbelanja peralatan kami segera menaiki Phoenix milik Shun , namun sayang, gerbang utara kota Elim Sudah ditutup karena takut monster dari Lime akan menyerang Elim mengingat jarak kota Lime dengan Elim yang tidak terlalu jauh. Kami memutuskan untuk mencari jalan memutar melalui hulu glasis dan menyebrang ke wilayah kuil adel baru bisa sampai ke lembah travia.
“Ayo percepat lagi jalannya Shun! Kita harus segera menyelamatkan Lime!” Ucap Zeon tidak sabar
“Tenang lah Zeon... Kita pasti tepat waktu,, para warrior desa Lime tidak selemah itu kan!” ucap shun
“shun benar Zeon , masih banyak warrior di Desa Lime yang bisa bertarung melawan Monster kelas A “ Sambung ku
Sesampainya di Kuil adel kami berhenti sejenak. Kami melihat Segerombol Ice clover yang sudah mencapai pintu masuk bagian timur kuil Adel. Ice clover adalah Bale kelas A yang memiliki Racun yang cukup kuat di gadanya , satu satunya yang berbahaya dari Ice Clover adalah Racunnya. Kami tidak menyangka Ice Clover akan secepat itu sampai ke kuil adel , namun karena kekuatan suci dari para Elim yang menjaga Adel , para Ice Clover tidak bisa menembus gerbang timur kuil. Kami pun segera menuju grombolan Ice Clover itu. Beberapa Gypsi yang merupakan penjaga Kuil Adel mencoba membuat perisai supaya Ice Clover tidak bisa menuju Kuil.
“Black Jack!! All In!!” Serangan Serangan dari Shun mengenai para Ice Clover itu , namun kekuatan Ice Clover Sepertinya sedikit lebih kuat jika dibandingkan dengan Spiky di Dataran Merah waktu itu.
“Cih serangan ku gagal ya...” ucap Shun kesal
“Para Gypsi , mohon kalian untuk menuju Kuil dan lindungi kuil saja , kami akan mengusir mereka sekuat tenaga” kataku kepada para Gypsi yang bukan Merupakan Priest maupun Prophet itu.  
“Tornado!! Slash!!” Serangan Zeon Sangat berefek , karena memang serangan fisik seperti barbarian sangat efektif untuk bertarung dengan para Ice Clover namun tidak bisa untuk melawan Ice Heart yang Tipe Sihir.
“Shun... Ice Clover akan sulit kau lawan sebaiknya kau duluan saja ke Lime , kami akan segera menyusul” ucap ku , meskipun seorang Prophet menggunakan sihir cahaya namun serangan combo kami bisa melukai lawan juga dan merupakan serangan tipe fisik juga.
Namun Shun Menolak tawaran kami dan memilih menunggu sambil terus menyerang Ice Clover yang mulai berkurang jumlahnya.
“Phew... Selesai juga, ayo kita ke Lime” Ajak Shun
Kami segera menaiki Guardian dan menuju kota Lime. Disana kota lime diselimuti oleh kristal Es akibat para Bale kali ini ber elemen Es. Hampir semua kota lime diselimuti Es yang membeku , kami tidak melihat ada manusia , namun banyak Bale yang merusak pemandangan kami.
“Atas kekuatan Mahkulth yang melemparkan bola cahaya!! Akan aku turunkan sihir Merah membara!! Giga Flame” tiba tiba suara misterius terdengar oleh kami. Dan dengan tiba tiba saja sebuah Bola api dari atas langit langsung menyambar kota Lime dan melelehkan Es tadi. Namun para Bale tadi masih hidup dan hanya Es di Lime yang mencair. Tetapi muncul lagi suara yang entah darimana dan muncul lah semburan api yang menghabisi setiap Bale yang mengepung kota Lime.
“Demi kelima Pilar suci dan kekejaman Raja Iblis Jikael!! Terbuka lah Gerbang neraka!! Inferno!!!” Sontak semburan api muncul tepat dari bawah para bale yang berdiri. Lalu kami segera mendekat menuju pusat kota lime , dan disana kami melihat seseorang dengan topi penyihir berwarna merah dan bercorak seperti awan , sepertinya itu merupakan Suit of Magician yang digunakan oleh para Burner dan pakaian ala ala penyihir dengan warna dan corak yang sama. Serta Tongkat sihir yang merupakan tongkat api terkuat yang pernah ada. Jikael’s Staff , senjata terlangka bagi para burner , serta sebuah nama di tongkat itu yang menunjukan pemilik tongkat itu yaitu “Lufa”
“Siapa kau?? Kau telah menghancurkan para bale itu dengan 1x serang!! “ Tanya Zeon
“Aku adalah Lufa si burner dari Barat, orang orang memanggilku Si mata Api!” katanya.
“Si mata api?? Aku pernah mendengar rumor itu... namun aku tak menyangka bahwa rumor itu benar benar nyata....” kata Shun
“Si mata api... katanya dia adalah seorang penyihir yang kekuatannya setingkat dengan 4 pahlawan dan dia juga sempat membantu 4 pahlawan ketika menyegel ke 5 pilar suci. Dia seharusnya mendapat gelar pahlawan itu , namun... kenapa kau menghilang ketika akan dilantik menjadi pahlawan??” tanya Zeon
“itu kulakukan supaya aku bisa bebas menjaga ke 5 pilar itu supaya tidak hancur , karena jika aku menjadi pahlawan yang ke 5 maka akan sulit karena banyak orang yang akan mengincarku dan melawanku untuk sekedar gelar pahlawan”Jelasnya
“lalu bagaimana dengan warga desa?? Apa mereka selamat?? Apa nenek ku selamat??” tanya Zeon panik
“Tenanglah barbarian , mereka semua selamat. Aku sudah mengungsikan mereka ke Dinding Luar Lime , paling tidak hanya Bale kelas C dan D yang ada disana akan lebih aman dibanding disini. “ Jelasnya
“satu pertanyaan lagi untukmu Nona Lufa... Apakah kau mengetahui keberadaan Lucifer saat ini?” Tanyaku , suasana tiba tiba menjadi sangat sunyi lebih sunyi dibanding tadi.
“Aku tidak bisa menjawab , karena aku takut kalian akan menuju ke tempat nya. Aku tidak ingin ada manusia yang jelas tak mungkin bisa mengalahkannya mencoba untuk terus berjuang menghadapinya” kata Lufa  sedikit memperingatkan
“Baiklah kalau begitu... jika kau tidak ingin memberi tau... maukah kau menemani kami dan membuat kami menjadi lebih kuat, sehingga kami bisa menghadapi Lucifer?” tanyaku

“Tunggu , tarik ucapanku. Aku akan menemanimu menuju Lucifer” Ungkap nya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Petualangan di Shiltz (Chapter 08) END

Chapter 08 : Pertarungan terakhir Tubuhku kembali menjadi wujud prophet ku. Aku meneguk potion pengembali energi dan penghilang luka. Sihir penyembuhan prophetku juga tidak lupa aku gunakan karena setelah ini aku akan menghadapi sang raja iblis lucifer. “Semoga saja ini menjadi pertempuranku yang terakhir” kataku , aku mulai melepas semua jubah prophetku dan hanya Crusade mace yang aku bawa untuk menghabisi lucifer. Aku mulai memasuki area yang terlihat penuh dengan jebakan. Satu langkah saja duri duri di samping ku akan langsung menghunusku. Entah apa yang merasuki diriku namun aku sama sekali tidak memiliki rasa takut saat ini. Perasaan ini sangat berbeda dengan diriku yang dulu yang sangat takut untuk bertempur, mungkin karena semua rasa takut ini sudah ku ubah menjadi kekuatan untuk menghadapi lucifer. Seusai melewati rintangan itu aku pun sampai di sebuah pintu raksasa dengan lambang mata berwarna biru ditengah tengah pintu itu. Aku pun menyentuh pintu itu dan membuka segel...

Desa Langit

DESA LANGIT Karya : Ilham Maulana (Mr.I)            Namaku Saito umurku 14 tahun. Saat ini sekolah ku sedang musim liburan jadi aku memutuskan untuk berlibur bersama ayah dan bundaku ke desa Langit. Memang nama desa yang aneh tapi desa itu adalah desa dimana paman dan bibiku tinggal. Menurut cerita desa ini dinamakan desa langit karena di ujung bukit di desa ini ada suatu kekuatan yang katanya bisa menarik kita dengan kasar menuju langit dan tak bisa kembali lagi. Karena cerita itu aku jadi tetap bermain di halaman rumah bibiku saja supaya aku aman. Suatu ketika aku bertemu seorang anak perempuan yang sebaya denganku. “Hei , aku belum pernah melihatmu?” sapa gadis itu “um… ng… memang aku kesini untuk berlibur….” Jawabku gugup “oh begitu , perkenalkan namaku Lena. Kamu harus hati hati ya di desa ini , karena ini sudah memasuki bulan july “ kata lena “memang kenapa kalau bulan july ?” tanyaku “bulan July ada...

Kos Berhantu

Cerpen Horor - Kos Berhantu Karya Karina Puspa Sari Aku menempati kamar kosku yang baru di kawasan sekitar kota dekat kampusku. Biaya perbulanya agak sedikit mahal ya tentu saja karena dekat dengan Kampus. Ruangannya nyaman untuk di tempati untuk mahasiswa sepertiku. Ruangan itu di cat hijau lembut. Kamar itu berukuran 3x3 meter persegi. Ada satu tempat tidur beserta bantal dan gulingnya, satu lemari plastik, satu set meja belajar, dan juga tentu saja ada kamar mandi. Aku segera menata baju-bajuku, perlengkapanku, memasang seprai untuk tempat tidur, meletakan buku-bukuku di rak meja belajar. Setelah selesai aku istirahat sebentar sambil membuka laptopku dan menyalakan musik kesukaanku. Tidak lama kemudian aku tertidur. Sesaat setelah aku tertidur aku melihat ada orang yang berjalan masuk ke kamarku menuju kamar mandi. Aku tidak melihat wajahnya. Dia memakai baju berwarna serba merah. Kulitnya putih sekali. Saat aku terjaga kemudian aku bangun, aku kem...