Langsung ke konten utama

Pria Misterius


PRIA MISTERIUS

Aku masuk ke dalam bus dan berdiri karena sudah tidak ada tempat yang kosong. Memang,di jam-jam seperti ini bus sedang ramai-ramainya. Aku agak sedikit terlonjak saat bus itu jalan. Hampir saja jatuh ke depan kalau tidak dipegang oleh seorang pria. Masih sedikit bingung aku menatap si pria dan mengucapkan terima kasih. Si pria tidak menjawab dan langsung berjalan menuju bagian depan bus.

Selang beberapa lama, ada beberapa tempat duduk yang sudah kosong, aku pun duduk di salah satu tempat itu. Saat sedang memandang ke kaca bus, ada seorang pria yang duduk di sampingku. Awalnya aku tidak terlalu mempedulikan siapa yang duduk di sampingku, tapi akhirnya aku menoleh dan mendapati pria yang tadi menolongku duduk di sampingku. “Biarkan saja” pikirku.

Bus berhenti di sebuah halte, beberapa penumpang turun. Pria tersebut berdiri dan menarik tanganku. Aku terkejut dan mencoba melepaskan tangan si pria tapi cengkraman pria tersebut sangat kencang sehingga aku harus mengikutinya turun walaupun tidak mau. Aku mencoba berteriak saat sudah sampai pintu bus, tapi entah mengapa tidak ada suara yang keluar dari mulutku. Kami berdua turun dan bus itu pergi.

“Lepaskan!” teriakku. Suara ku kembali? Bagaimana bisa? Si pria menggendongku dan membawaku pergi. Pria itu membawaku pergi ke sebuah rumah kecil. Aku dimasukkan ke kamar yang ada di rumah tersebut.
 

“Siapa namamu?” tanya si pria.
 

“A-aku—namaku Lily” jawaku terbata-bata.
 

“Nama yang bagus” sahut pria itu
 

Si pria pun meninggalkanku dan menutup pintu kamar itu. Terdengar suara “klik” dari pintu itu. Dikunci. Aku harus bagaimana? Kenapa pria itu membawa ku kemari? Sudah jelas kau diculik Lily! suara–suara dalam otakku bersahutan. Aku duduk di sudut kamar itu dan mulai menangis.

Terdengar suara langkah kaki di luar kamar. Aku terlonjak dan langsung bangun. Ternyata tadi aku ketiduran sehabis menangis dan aku sangat pusing sekarang. Aku harus menemukan jalan keluar sekarang, pikirku. Tapi disini tidak ada kaca atau jendela yang biasanya ada di rumah penculik di televisi. Ini bukan film Lily! aku memukul kepalaku sendiri.
Sekarang jam berapa? Sepertinya sudah malam, pasti orangtuaku sangat khawatir. Aku kembali duduk dan mencoba berpikir. Tiba-tiba pintu kamar itu terbuka dan masuklah pria tadi.
 

“Pakai ini” ucap si pria sambil memberiku sehelai baju.
 

“Tidak” jawabku lalu melempar baju itu.
 

“PAKAI SEKARANG!” bentak pria itu padaku. Pria itu melemparkan baju itu ke wajahku.
Bibirku bergetar, air mataku tumpah membasahi pipiku. Aku sangat takut. Aku mengambil baju itu dari wajahku. Pria itu menatapku lalu pergi lagi.

Pria itu menyuruhku memakai gaun berenda bermotif bunga. Baju terlihat itu lucu kalau saja yang memberikan orangtuaku, tapi terlihat sangat menjijikkan sekarang ini. Akhirnya aku memakainya dengan terpaksa, biar bagaimanapun aku tidak mau pria itu menyakitiku hanya karena aku tidak mau memakai baju ini.

“Klik” terdengar suara pintu dibuka. Pria itu kembali dan membawakan ku makanan. Aku curiga makanan itu sudah diracuni jadi kusingkirkan makanan itu.
 

“Makanlah. Tidak usah takut, makanan ini tidak mengandung racun” ucap si pria seakan bisa membaca pikiranku.
 

“Biar bagaimanpun aku tidak bisa membiarkan mu mati. Kau sangat berharga bagiku ” sambung pria itu lagi.

Dia meninggalkan ku lagi. Aku memakan makanan itu karena dari tadi siang belum makan. Aku tidak mau mati karena kelaparan. Tiba-tiba aku terpikir oleh kata-kata pria tadi, apa maksudnya aku sangat berharga baginya? Pasti karena dia kan segera meminta uang tebusan dari orangtua ku, pikirku.

Setelah selesai makan, aku menyusuri kamar ini untuk mencari jalan keluar atau benda apa saja yang bisa menghancurkan pintu itu. Di sini ada banyak barang rongsokan yang tidak terpakai tapi tidak ada yang bisa kupakai untuk menghancurkan sebuah pintu. Aku terus memutar otakku tapi terlambat pria itu kembali masuk ke kamar ini. Dia menarikku keluar dan memasukkanku ke dalam sebuah mobil mewah. Pria itu duduk di depan dan mulai menyetir.

Kulihat pria tersebut memakai pakaian resmi dan rapi, tidak seperti tadi siang. Aku tidak menyangka dia punya mobil mewah padahal rumahnya kecil. Saat di perjalanan aku terus memikirkan bagaimana caranya lepas dari pria ini. Aku pun menerka-nerka mau kemana kita sebenarnya. Pestakah? Tidak mungkin. Atau.. pertemuan resmi mungkin?
Pertanyaanku terjawab sudah. Aku dibawa ke sebuah gedung tua yang kelihatan bobrok. Aku digandeng oleh pria itu layaknya seorang anak dan bapak. Setelah sampai di dalam dia membawa ku ke sebuah kamar dan ternyata disitu ada banyak anak perempuan yang seumuranku sedang dirias. Mereka semua terlihat cantik tapi wajah mereka menunjukkan kesedihan. Aku pun juga dirias oleh seorang wanita. “Tampillah dengan baik. Jangan mengecewakanku” kata pria itu sambil berlalu pergi.
Setelah selesai dirias aku ditinggal oleh wanita itu. Aku ajak bicara seorang anak di sebelahku.
 

“Hai. Hmm, kalau boleh tau kita di sini mau apa ya?” tanyaku gugup.
 

“A-aku juga tidak tahu” kata anak itu sendu.
Kami dipanggil satu-persatu dan akhirnya tibalah namaku dipanggil. Aku naik ke atas sebuah mimbar dan tirai pun dibuka. Terlihat di depanku ada banyak pria dan wanita berpakaian mewah. Mereka semua bertepuk tangan. Aku bingung. Lalu aku melihat pria tadi naik ke atas mimbar.

“Ini dia persembahan malam ini!” ucap pria itu dengan suara lantang diikuti suara riuh tepuk tangan lagi.
 

“Harga dibuka mulai 50 juta rupiah” sambung pria itu.
Aku sangat terkejut. Jadi ini tempat penjualan anak?! Aku dilelang? Kaki ku bergetar dan aku mulai menangis. Aku menangis di depan calon pembeli ku! Tidak terpikirkan olehku bahwa aku akan dilelang. “Menangislah terus, itu akan mempengaruhi hargamu, Nak” ucap pria itu.
 

Aku ingin berhenti menangis tapi aku tidak bisa. Yang bisa kuperbuat hanya menangis tapi aku tidak mau mereka membeliku.

“60 juta”
“77 juta”
“100 juta”
 

Semua suara bersahut-sahutan di ruangan ini. Aku pusing, sangat pusing hingga aku jatuh terduduk. “Ya! Sudah tidak ada yang mau menawar lagi?” tanya si pria. Para pembeli menggelengkan kepala dan bergumam “Tidak”.
 

“Harga sudah ditetapkan. Anak ini terbeli seharga 180 juta oleh Bapak Alfian” kata si pria.
Aku pun diberikan kepada bapak Alfian itu. Aku duduk di sebelah bapak Afian. Kudengar bapak Alfian bergumam “Aku dapat seorang anak cantik malam ini”. Hah! Aku sudah muak dengan semua ini, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa!
 

Saat tirai terbuka lagi dan menampilkan seorang anak yang lebih muda dariku, samar-samar aku mendengar suara ambulans. Tapi makin lama makin dekat dan ternyata itu dengungan alarm mobil polisi. Mereka semua panik, berlarian ke sana kemari. Tapi ternyata polisi sudah mengepung gedung ini.

Satu persatu polisi memasuki gedung ini. “Diam di tempat! Angkat tangan kalian!” teriak salah seorang polisi. Semua menunduk dan mengangkat tangan. Aku lega dan berlari menuju si polisi. Tiba-tiba terdengar suara tembakan menggelegar. Pria yang tadi membeli ku menembak polisi di depanku. Polisi itu terjatuh tapi tidak mati. Tidak lama kemudian terdengar suara tembakan bertubi-tubi dilancarkan. Kulihat pria yang tadi menembak polisi itu sudah mati.

Aku pun dibawa masuk ke salah satu mobil polisi dan di dalam sana ada juga anak yang tadi aku bicarakan. “Aku yang menghubungi polisi” kata anak itu. Aku terkejut sekaligus senang karena anak itu menghubungi polisi.
 

“Terima kasih. Kau menyelamatkan ku dan anak-anak yang lain” ucapku pada anak itu. Lalu, aku pun memeluk erat anak itu sambil berlalunya mobil ini.



Karya : Masrikah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Petualangan di Shiltz (Chapter 08) END

Chapter 08 : Pertarungan terakhir Tubuhku kembali menjadi wujud prophet ku. Aku meneguk potion pengembali energi dan penghilang luka. Sihir penyembuhan prophetku juga tidak lupa aku gunakan karena setelah ini aku akan menghadapi sang raja iblis lucifer. “Semoga saja ini menjadi pertempuranku yang terakhir” kataku , aku mulai melepas semua jubah prophetku dan hanya Crusade mace yang aku bawa untuk menghabisi lucifer. Aku mulai memasuki area yang terlihat penuh dengan jebakan. Satu langkah saja duri duri di samping ku akan langsung menghunusku. Entah apa yang merasuki diriku namun aku sama sekali tidak memiliki rasa takut saat ini. Perasaan ini sangat berbeda dengan diriku yang dulu yang sangat takut untuk bertempur, mungkin karena semua rasa takut ini sudah ku ubah menjadi kekuatan untuk menghadapi lucifer. Seusai melewati rintangan itu aku pun sampai di sebuah pintu raksasa dengan lambang mata berwarna biru ditengah tengah pintu itu. Aku pun menyentuh pintu itu dan membuka segel...

Desa Langit

DESA LANGIT Karya : Ilham Maulana (Mr.I)            Namaku Saito umurku 14 tahun. Saat ini sekolah ku sedang musim liburan jadi aku memutuskan untuk berlibur bersama ayah dan bundaku ke desa Langit. Memang nama desa yang aneh tapi desa itu adalah desa dimana paman dan bibiku tinggal. Menurut cerita desa ini dinamakan desa langit karena di ujung bukit di desa ini ada suatu kekuatan yang katanya bisa menarik kita dengan kasar menuju langit dan tak bisa kembali lagi. Karena cerita itu aku jadi tetap bermain di halaman rumah bibiku saja supaya aku aman. Suatu ketika aku bertemu seorang anak perempuan yang sebaya denganku. “Hei , aku belum pernah melihatmu?” sapa gadis itu “um… ng… memang aku kesini untuk berlibur….” Jawabku gugup “oh begitu , perkenalkan namaku Lena. Kamu harus hati hati ya di desa ini , karena ini sudah memasuki bulan july “ kata lena “memang kenapa kalau bulan july ?” tanyaku “bulan July ada...

Kos Berhantu

Cerpen Horor - Kos Berhantu Karya Karina Puspa Sari Aku menempati kamar kosku yang baru di kawasan sekitar kota dekat kampusku. Biaya perbulanya agak sedikit mahal ya tentu saja karena dekat dengan Kampus. Ruangannya nyaman untuk di tempati untuk mahasiswa sepertiku. Ruangan itu di cat hijau lembut. Kamar itu berukuran 3x3 meter persegi. Ada satu tempat tidur beserta bantal dan gulingnya, satu lemari plastik, satu set meja belajar, dan juga tentu saja ada kamar mandi. Aku segera menata baju-bajuku, perlengkapanku, memasang seprai untuk tempat tidur, meletakan buku-bukuku di rak meja belajar. Setelah selesai aku istirahat sebentar sambil membuka laptopku dan menyalakan musik kesukaanku. Tidak lama kemudian aku tertidur. Sesaat setelah aku tertidur aku melihat ada orang yang berjalan masuk ke kamarku menuju kamar mandi. Aku tidak melihat wajahnya. Dia memakai baju berwarna serba merah. Kulitnya putih sekali. Saat aku terjaga kemudian aku bangun, aku kem...